Pelajaran Hidup
Dari Penjual Mie Ayam
Kali ini saya ingin berbagi pengalaman hidup yang relatif singkat. Namun, Alhamdulillah mampu mengubah jalan hidup dan agar pembaca juga dapat memetik hikmah dari pegalaman tersebut.
---
Saat itu hari libur, bertepatan dengan hari libur biasanya sanak saudara saya berkunjung ke rumah. Maklum, saya anak tertua sehingga wajar saja jika adik dan anak-anaknya sering bermain ke rumah saya. Tujuannya jelas, menemani saya dan suami. Kebetulan, dua anak saya tidak berada di tanah air, mereka menimba ilmu di Belanda dan Amerika. Maka, beginilah hidup kami sehari-harinya, menanam tanaman dan memperjual belikannya. Saya dan suami adalah pengusaha tanaman. Bisnis ini sudah berjalan sekitar delapan tahun , Alhamdulillah berkembang pesat meski sesekali rugi tidak bisa dihindari.
Hari Minggu itu saya menawari adik dan keponakan untuk makan siang menu mie ayam yang kebetulan lewat di depan komplek. Mereka setuju, karena memang saya tahu kesukaan mereka. Berkali-kali saya membuatkan mereka mie ayam, tapi berhubung hari itu saya sedang kelelahan karena banyaknya pesanan tanaman, maka saya putuskan untuk membeli saja.
Tiba saat membayar, saya melihat penjual mie ayam tersebut tengah memisah-misahkan uang hasil dagangan ke dalam tempat yang berbeda-beda. Satu ke dalam dompet, laci, dan kaleng susu usang. Karena penasaran, saya pun memberanikan diri untuk bertanya. Namun, alangkah terkejutnya saya mendengar jawaban penjual mie ayam tersebut.
Sambil tersenyum, penjual tersebut menerangkan bahwa uang yang didapatnya dari berjualan mie ayam sengaja dipisahkan. Uang yang masuk dompet untuk keperluan sehari-hari, uang yang masuk laci untuk bersedekah dan menabung untuk berqurban saat idul adha, sedangkan uang yang masuk kaleng susu untuk membiayai dirinya yang ingin berhaji ke tanah suci. Masyaallah, saya tersentuh saat itu juga. Betapa saya jarang beramal padahal materi yang saya miliki tentunya jauh lebih banyak dibandingkan dengan penjual mie ayam yang semangkoknya dihargai lima ribu rupiah itu. Berulang kali saya mengucapkan terima kasih pada penjual mie ayam tersebut. Terima kasih karena telah diajarkan bagaimana mengatur keuangan yang baik seperti yang diajarkan dalam agama.
Begitulah ceritanya, semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari pengalaman tersebut.
SELAMAT
MEMBACA..^^

1 komentar:
Mie Ayam 1 porsi pak.
Posting Komentar